Projecthopesumba

Gereja Buka Ruang untuk Difabel Tampil dan Berkarya

Aroma sejuk datang dari sebuah Gereja yang telah memulai pergerakkannya untuk mendukung difabel. Pdt Ari Molla, salah satu pendeta di Gereja Kristen Sumba Weerame, Wewewa Timur, Sumba Barat Daya, mulai membuka ruang untuk pengembangan diri difabel.

Salah satu program terbarunya adalah mempercayai difabel membimbing anak-anak di desa (khususnya anak PPA) untuk belajar Bahasa Inggris. Difabel telah diberikan ruang oleh GKS Weerame untuk mengajar Bahasa Inggris bagi anak-anak di desa. Gereja telah melihat potensi, kemampuan, dan motivasi yang kuat dari dalam diri difabel, salah satunya adalah Sukarmini Bulu (Armin/21 tahun).

Pada 7 November 2022 lalu, Pdt Ari Molla, orang tua anak, anak-anak, Armin, dan YHS sebagai pendamping telah bertemu untuk membahas dan menyepakati kegiatan Armin untuk mengajar Bahasa Inggris untuk anak-anak. Dalam pertemuan, Armin diberikan ruang untuk menyampaikan metode pembelajarannya dan jadwal evaluasi kegiatan per 2 bulan. Armin mengusulkan adanya whats app grup untuk mempermudah Armin memberi laporan.

Awalnya pada 14 November ada 25 anak yang mendaftar menjadi anak dampingan Armin. Tetapi terjadi penambahan anak-anak dampingan pada 28 November 2022, yaitu 31 anak. Ini menunjukkan bahwa anak-anak senang dan puas dengan pengajaran Armin. Dampaknya, pengakuan dan kepercayaan orang tua pada kapasitas Arming meningkat, meskipun Armin tak pernah menikmati Pendidikan formal selama hidupnya.

Anak-anak yang senang dan bangga dengan kegiatan ini mengajak teman-temannya yanag lain. Agar memiliki identitas, Armin dan anak-anak menyepakati kelompok belajarnya dengan nama “Balai Belajar Bahasa Inggris”.

Idenya dari Armin sendiri

Saya teringat, yang lalu Armin bilang mau les atau belajar dengan anak-anak begitu. Ide ini awalnya dari inisiatif  Armin sendiri. Dan kami bantu dari gereja untuk memperkuat.”Ungkap Ibu Pdt. Ari tentang sejarah munculnya ide ini.

 

Salah satu yang menjadi alasan kuat gereja ingin mendukung difabel adalah karena difabel memiliki motivasi yang kuat dan ada Lembaga yang mendukungnya. “Karena kami melihat Armin bisa menerima dirinya sendiri dan punya motivasi dari dalam dirinya itu kuat, kemudian ada orang tua yang terbuka dan dukung Armin, lalu ada Yayasan dan tim program yang menopang dan membantu Armin.” tuturnya.

Difabel menjadi motor penggerak jemaat

Disamping adanya inisiatif Armin sendiri, Pdt Ari juga ternyata punya tujuang besar dalam mendukung Armin mengajar Bahasa Inggris.  “Maksudnya Armin menjadi motor penggerak untuk orang-orang disini.” tuturnya. Beliau ingin Armin menjadi salah satu figure/tokoh di desa, yang berbagi berkat dengan apa yang ada dan dapat dilakukannya.

“Karena bagi saya, semua orang itu sama. Jadi justru mereka yang paling lemah harus dikuatkan. Menurut saya gereja juga harus jadi tempat, istilahnya rumah nyaman untuk kaum difabel” ungkapnya., dan ini menjadi dasar baginya untuk berkomitmen melayani mereka yang hidup paling susah/rentan.

 

Untuk program dan kegiatan khusus dengan kaum difabel, katanya, saat itu belum ada dan belum terpikirkan oleh Gereja. Namun perhatian, pelibatan dan memberikan kesempatan pada Armin untuk berkarya adalah inisiatif baru yang menunjukkan adanya perubahan. “Selama ini kami sebatas pelayanan saja yang kami berikan ke jemaat penyandang disabilitas. Untuk kegiatan begitu belum ada. Ini baru mulai dengan kegiatan bersama Armin.” Tuturnya.

Difabel juga adalah Citra Allah

Pendeta menyadari bahwa setiap
ciptaan Tuhan memiliki hak yang sama, tetapi banyak fakta social yang
menunjukkan bahwa kelompok rentan seperti difabel tak mendapatkannya. “Difabel
bagi saya adalah ciptaan Tuhan juga, yang serupa dan segambar dengan Tuhan.
Kedua, mereka juga punya hak yang sama untuk ada dalam pelayanan gereja.
Ketiga, justru kelompok-kelompok itulah yang harus mendapatkan perhatian lebih.
Hanya kadang-kadang kita tidak berikan ruang lebih”
katanya.

Dukungan keluarga salah satu kuncinya

 “Dukungan keluarga itu, Armin mendapatkan itu yang paling penting. Tidak semua difabel mendapatkan dukungan dari keluarga” kata Pendeta Ari. Yang disampaikan Pendeta Ari benar sekali. Armin adalah salah satu difabel yang paling besar perubahannya karena ia diperlakukan sama, mendapatkan kasih sayang dari keluarga, tidak diabaikan, tidak mengalami kekerasan dan perlakuan buruk lainnya.

 

Pendeta Ari melihat kelompok rentan seperti difabel memiliki potensi, dan jika mendapatkan kesempatan, maka mereka dapat melakukan banyak hal besar.  “Bagi saya sendiri, harusnya pribadi-pribadi seperti itulah kita beri perhatian lebih karena mereka bisa menjadi berkat yang jauh lebih hebat ketika kita beri perhatian” ungkapnya.

Gereja Buka Ruang untuk Difabel Tampil dan Berkarya

Aroma sejuk datang dari sebuah Gereja yang telah memulai pergerakkannya untuk mendukung difabel. Pdt Ari Molla, salah satu pendeta di Gereja Kristen Sumba Weerame, Wewewa Timur, Sumba Barat Daya, mulai membuka ruang untuk pengembangan diri difabel.

Salah satu program terbarunya adalah mempercayai difabel membimbing anak-anak di desa (khususnya anak PPA) untuk belajar Bahasa Inggris. Difabel telah diberikan ruang oleh GKS Weerame untuk mengajar Bahasa Inggris bagi anak-anak di desa. Gereja telah melihat potensi, kemampuan, dan motivasi yang kuat dari dalam diri difabel, salah satunya adalah Sukarmini Bulu (Armin/21 tahun).

Pada 7 November 2022 lalu, Pdt Ari Molla, orang tua anak, anak-anak, Armin, dan YHS sebagai pendamping telah bertemu untuk membahas dan menyepakati kegiatan Armin untuk mengajar Bahasa Inggris untuk anak-anak. Dalam pertemuan, Armin diberikan ruang untuk menyampaikan metode pembelajarannya dan jadwal evaluasi kegiatan per 2 bulan. Armin mengusulkan adanya whats app grup untuk mempermudah Armin memberi laporan.

Awalnya pada 14 November ada 25 anak yang mendaftar menjadi anak dampingan Armin. Tetapi terjadi penambahan anak-anak dampingan pada 28 November 2022, yaitu 31 anak. Ini menunjukkan bahwa anak-anak senang dan puas dengan pengajaran Armin. Dampaknya, pengakuan dan kepercayaan orang tua pada kapasitas Arming meningkat, meskipun Armin tak pernah menikmati Pendidikan formal selama hidupnya.

Anak-anak yang senang dan bangga dengan kegiatan ini mengajak teman-temannya yanag lain. Agar memiliki identitas, Armin dan anak-anak menyepakati kelompok belajarnya dengan nama “Balai Belajar Bahasa Inggris”.

Idenya dari Armin sendiri

Saya teringat, yang lalu Armin bilang mau les atau belajar dengan anak-anak begitu. Ide ini awalnya dari inisiatif  Armin sendiri. Dan kami bantu dari gereja untuk memperkuat.”Ungkap Ibu Pdt. Ari tentang sejarah munculnya ide ini.

 

Salah satu yang menjadi alasan kuat gereja ingin mendukung difabel adalah karena difabel memiliki motivasi yang kuat dan ada Lembaga yang mendukungnya. “Karena kami melihat Armin bisa menerima dirinya sendiri dan punya motivasi dari dalam dirinya itu kuat, kemudian ada orang tua yang terbuka dan dukung Armin, lalu ada Yayasan dan tim program yang menopang dan membantu Armin.” tuturnya.

Difabel menjadi motor penggerak jemaat

Disamping adanya inisiatif Armin sendiri, Pdt Ari juga ternyata punya tujuang besar dalam mendukung Armin mengajar Bahasa Inggris.  “Maksudnya Armin menjadi motor penggerak untuk orang-orang disini.” tuturnya. Beliau ingin Armin menjadi salah satu figure/tokoh di desa, yang berbagi berkat dengan apa yang ada dan dapat dilakukannya.

“Karena bagi saya, semua orang itu sama. Jadi justru mereka yang paling lemah harus dikuatkan. Menurut saya gereja juga harus jadi tempat, istilahnya rumah nyaman untuk kaum difabel” ungkapnya., dan ini menjadi dasar baginya untuk berkomitmen melayani mereka yang hidup paling susah/rentan.

 

Untuk program dan kegiatan khusus dengan kaum difabel, katanya, saat itu belum ada dan belum terpikirkan oleh Gereja. Namun perhatian, pelibatan dan memberikan kesempatan pada Armin untuk berkarya adalah inisiatif baru yang menunjukkan adanya perubahan. “Selama ini kami sebatas pelayanan saja yang kami berikan ke jemaat penyandang disabilitas. Untuk kegiatan begitu belum ada. Ini baru mulai dengan kegiatan bersama Armin.” Tuturnya.

Difabel juga adalah Citra Allah

Pendeta menyadari bahwa setiap
ciptaan Tuhan memiliki hak yang sama, tetapi banyak fakta social yang
menunjukkan bahwa kelompok rentan seperti difabel tak mendapatkannya. “Difabel
bagi saya adalah ciptaan Tuhan juga, yang serupa dan segambar dengan Tuhan.
Kedua, mereka juga punya hak yang sama untuk ada dalam pelayanan gereja.
Ketiga, justru kelompok-kelompok itulah yang harus mendapatkan perhatian lebih.
Hanya kadang-kadang kita tidak berikan ruang lebih”
katanya.

Dukungan keluarga salah satu kuncinya

 “Dukungan keluarga itu, Armin mendapatkan itu yang paling penting. Tidak semua difabel mendapatkan dukungan dari keluarga” kata Pendeta Ari. Yang disampaikan Pendeta Ari benar sekali. Armin adalah salah satu difabel yang paling besar perubahannya karena ia diperlakukan sama, mendapatkan kasih sayang dari keluarga, tidak diabaikan, tidak mengalami kekerasan dan perlakuan buruk lainnya.

 

Pendeta Ari melihat kelompok rentan seperti difabel memiliki potensi, dan jika mendapatkan kesempatan, maka mereka dapat melakukan banyak hal besar.  “Bagi saya sendiri, harusnya pribadi-pribadi seperti itulah kita beri perhatian lebih karena mereka bisa menjadi berkat yang jauh lebih hebat ketika kita beri perhatian” ungkapnya.